Hakikat Cinta
Mungkin
setiap orang mempunyai pengertiannya sendiri tentang cinta dengan pemahaman dan
cara pandang yang berbeda. Inilah yang membuat cinta sulit didefinisikan,
karena sifatnya yang abstrak dan bebas ditafsirkan sesuai cara pandang tiap
individu. Jika kita melihat cinta dari sudut pandang islam, maka cinta
bersumber dari satu titik, yaitu Allah SWT. Karena Dialah yang Maha Pemberi
atas semua nikmat ini, cintanya tak pernah mengkhianati meskipun kita sebagai
hamba sering mengacuhkan kasih sayang dan rahmatNya. Singkat kata kita sering
kufur nikmat. Bila kita ibaratkan, maka cintaNya serupa pohon yang rindang dan
berbunga sepanjang masa. Dan ketika kita duduk di bawahnya, maka hembusan nafas
pohon itu mampu menembus hati atau menyejukan kalbu, sebab dari sanalah semua
cinta bermula dan bermuara.
Cinta
bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Cinta pertama kita adalah Allah
SWT. Dan karena kasih sayangNya yang begitu besar. Maka Dia hadiahkan cinta
yang lain pada kita, yaitu kedua orangtua. Cintanya hampir sama dengan Sang
Khalik. Sebab kita pernah tahu, bahwa ridho Allah ada pada ridho orangtua.
Cinta orangtua tak akan pernah terbalas, karena serupa air yang menyusui bumi,
mereka tak pernah mengharapkan balasan. Cinta mereka mengalir dari waktu ke
waktu. Dan dari merekalah kita harus belajar tulus mencintai. Kasih sayang dan
cinta orangtua yang melimpah dari sejak kita membuka hingga menutup mata, dari
sejak lahir hingga kembali ke rahim bumi adalah harta dan anugerah terbesar
yang dimiliki seorang anak. Maka bahagiakanlah orangtua selagi bisa, sebelum
senyumnya hilang menuju cinta pertama yaitu Allah SWT. Karena kita tak tahu
kapan Dia akan mengambil kembali milikNya.
Kemudian
cinta bergerak lagi menuju titik yang lain. Titik yang timbul karena adanya
rasa saling ketertarikan, yaitu cinta seorang lelaki pada seorang wanita
ataupun sebaliknya. Terkadang para remaja menganggap cinta ini segalanya.
Mereka bisa memikirkan pasangannya berjam-jam tanpa tidur dan makan, mereka
bisa menangis sepanjang malam, mereka bisa bunuh diri sesuka hati, dan masih
banyak lagi hal-hal luar biasa bahkan gila yang disebabkan cinta. Padahal kadar
cintanya menduduki posisi paling rendah dibanding kedua cinta di atas. Tetapi
karena adanya dorongan psikologis dari dalam, maka cinta ini terlihat lebih
kuat dan lebih dominnan muncul dari dalam diri seorang remaja. Ditambah lagi
dengan kelabilan dan keegoisan yang terkadang muncul. Di sisi lain, cinta ini
menambah pengalaman hidup seorang remaja. Namun dapat membahayakan dan
mengancam hidup juga bila terlalu banyak menyimpang dari norma. Hubungan cinta
ini dinamakan pacaran. Lantas kenapa islam melarang kita untuk berpacaran? saya
tidak akan menjawab dengan menggunakan hadist dan keterangan Alquran, sebab
semuanya sudah jelas bertebaran. Saya akan mengemukakan jawabannya dari sisi
psikologis kemanusiaan. Pada tahap remaja ini, hormon-hormon sedang berkembang
dan impuls seks juga sering keluar. Dan dalam kondisi seperti itu, remaja yang
berkejiwaan labil masih sulit mengendalikan. Apalagi bila sedang berhadapan
ataupun berdekatan dengan lawan jenis, maka akan sangat rawan dan bahaya.
Maraknya seks bebas adalah salah satu akibatnya.
Tentunya
yang diidam-idamkan para remaja dalan menjalin hubungan adalah mencapai cinta
yang sempurna. Namun sebenarnya cinta yang sempurna tidak akan pernah tercapai
bila kita mewadahinya dalam pacaran. Cinta yang sempurna akan datang saat
kejiwaan manusia sudah matang. Menurut Robert Sternberg, cinta yang sempurna
dibangum dari 3 komponen yang seimbang. 3 komponen tersebut terdiri dari
keintiman, gairah, dan komitmen. Keintiman meliputi seberapa dekat kita dengan
seseorang hingga timbul keinginnan untuk membina hubungan. Gairah lebih
mengarah pada dorongan dari dalam yang bersifat seksual. Dan komitmen berupa
keputusan secara sinambung untuk menjalankan kehidupan bersama. 3 komponen itu
harus seimbang, bila seimbang maka cinta yang sempurna bisa tercapai. Dan
pernikahan yang matang adalah salah satu cara untuk mendapatkannya, bukan
pacaran. Sebab semua remaja tidak bisa menyeimbangkan semua komponen ini.
Keintiman akan sulit tercapai, karena para remaja mudah sekali bosan dalam
membina hubungan. Gairah akan sulit diwujudkan, karena semua tindakan yang
bersifat seksual dibatasi norma yang berlaku. Komitmen akan selalu goyah,
karena kepribadiaan yang masih labil. Jadi kesempurnaan cinta itu sulit didapat
saat remaja. Adapun yang memaksakan, maka akan terjadi kehancuran dalam
hidupnya sendiri. Sebagai contoh, gairah yang terlalu dipaksakan akan mengarah
pada perzinahan. Oleh karena itulah, islam melarang kita pacaran. Dan
percayalah akan Qadha dan Qadhar Allah, bahwa jodoh sudah menunggu kita di
pintu masa depan. Agama islam adalah agama yang sesuai dengan sisi kemanusiaan.
Cinta yang sempurna saat ini adalah cinta yang diberikan Allah dan orangtua
kita sendiri.
Dan bila
sekarang kalian sedang galau, maka bangkitlah! sebab kalian sudah membuang
waktu berharga dalam hidup kalian untuk orang yang belum pasti menjadi
pendamping atau jodoh kalian! sedangkan secara tidak sadar kalian juga sudah
mengabaikan kasih sayang dan cinta yang besar dari orang-orang terdekat,
terutama orangtua kalian. Jangan takut kehilangan seorang pacar, tapi takutlah
ketika kehilangan Allah dan orangtua kalian.
Seperti yang
saya tulis di awal, cinta bermula dan bermuara pada Allah SWT semata. Dan kita
tahu, sebaik-baiknya cinta ketika kita bisa mencintai seseorang karena Allah
SWT. Karena ketika di padang mahsyar nanti, Allah SWT menghadiahkan kesejukan
bagi mereka saat orang lain kepanasan dan ternggelam dalam keringatnya sendiri.
Hakikat cinta dalam kehidupan ini bila
digambarkan maka akan membentuk sebuah segitiga. Dari satu sudut ke sudut yang
lain saling berhubungan. Tetapi bila kita urai dari awal, maka hakikatnya semua
cinta berawal dan berakhir di titik teratas, yaitu cinta Allah SWT. CintaNya
selalu tercurah pada kita, tetapi apakah cinta kita selalu tercurah padaNya?
CintaNya selalu ada setiap waktu untuk kita, tapi apakah cinta kita selalu ada
setiap waktu untuk memenuhi panggilanNya (Sholat fardu)? Cintanya selalu
memberikan segalanya untuk kita, tapi apakah kita pernah memberikan segalanya
untukNya? Mari kita renungkan, sebab kapan lagi kita akan membalas untuk
mencintaiNya. Hidup hanyalah sebuah jembatan, begitu tak terasa dan sangat
singkat. Ajal mengintip kita dimana-mana. Hanya dengan mencintaiNya, maka kita
bisa menikmati hidup, juga selamat dunia akhirat.
Cinta
pertama (Allah SWT)
Cinta ketiga (Jodoh)
Cinta kedua (Orangtua)
Demikianlah artikel saya, semoga bermanfaat. Kebenaran hanya
datang dari Allah SWT, dan kesalahan juga kebodohan selalu muncul dari saya
selaku hambaNya. Wallahualam.
0 komentar:
Post a Comment