Translate to your language

Wednesday, September 9, 2015

Hakikat Cinta

Hakikat Cinta

            Mungkin setiap orang mempunyai pengertiannya sendiri tentang cinta dengan pemahaman dan cara pandang yang berbeda. Inilah yang membuat cinta sulit didefinisikan, karena sifatnya yang abstrak dan bebas ditafsirkan sesuai cara pandang tiap individu. Jika kita melihat cinta dari sudut pandang islam, maka cinta bersumber dari satu titik, yaitu Allah SWT. Karena Dialah yang Maha Pemberi atas semua nikmat ini, cintanya tak pernah mengkhianati meskipun kita sebagai hamba sering mengacuhkan kasih sayang dan rahmatNya. Singkat kata kita sering kufur nikmat. Bila kita ibaratkan, maka cintaNya serupa pohon yang rindang dan berbunga sepanjang masa. Dan ketika kita duduk di bawahnya, maka hembusan nafas pohon itu mampu menembus hati atau menyejukan kalbu, sebab dari sanalah semua cinta bermula dan bermuara.
            Cinta bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Cinta pertama kita adalah Allah SWT. Dan karena kasih sayangNya yang begitu besar. Maka Dia hadiahkan cinta yang lain pada kita, yaitu kedua orangtua. Cintanya hampir sama dengan Sang Khalik. Sebab kita pernah tahu, bahwa ridho Allah ada pada ridho orangtua. Cinta orangtua tak akan pernah terbalas, karena serupa air yang menyusui bumi, mereka tak pernah mengharapkan balasan. Cinta mereka mengalir dari waktu ke waktu. Dan dari merekalah kita harus belajar tulus mencintai. Kasih sayang dan cinta orangtua yang melimpah dari sejak kita membuka hingga menutup mata, dari sejak lahir hingga kembali ke rahim bumi adalah harta dan anugerah terbesar yang dimiliki seorang anak. Maka bahagiakanlah orangtua selagi bisa, sebelum senyumnya hilang menuju cinta pertama yaitu Allah SWT. Karena kita tak tahu kapan Dia akan mengambil kembali milikNya.
            Kemudian cinta bergerak lagi menuju titik yang lain. Titik yang timbul karena adanya rasa saling ketertarikan, yaitu cinta seorang lelaki pada seorang wanita ataupun sebaliknya. Terkadang para remaja menganggap cinta ini segalanya. Mereka bisa memikirkan pasangannya berjam-jam tanpa tidur dan makan, mereka bisa menangis sepanjang malam, mereka bisa bunuh diri sesuka hati, dan masih banyak lagi hal-hal luar biasa bahkan gila yang disebabkan cinta. Padahal kadar cintanya menduduki posisi paling rendah dibanding kedua cinta di atas. Tetapi karena adanya dorongan psikologis dari dalam, maka cinta ini terlihat lebih kuat dan lebih dominnan muncul dari dalam diri seorang remaja. Ditambah lagi dengan kelabilan dan keegoisan yang terkadang muncul. Di sisi lain, cinta ini menambah pengalaman hidup seorang remaja. Namun dapat membahayakan dan mengancam hidup juga bila terlalu banyak menyimpang dari norma. Hubungan cinta ini dinamakan pacaran. Lantas kenapa islam melarang kita untuk berpacaran? saya tidak akan menjawab dengan menggunakan hadist dan keterangan Alquran, sebab semuanya sudah jelas bertebaran. Saya akan mengemukakan jawabannya dari sisi psikologis kemanusiaan. Pada tahap remaja ini, hormon-hormon sedang berkembang dan impuls seks juga sering keluar. Dan dalam kondisi seperti itu, remaja yang berkejiwaan labil masih sulit mengendalikan. Apalagi bila sedang berhadapan ataupun berdekatan dengan lawan jenis, maka akan sangat rawan dan bahaya. Maraknya seks bebas adalah salah satu akibatnya.
            Tentunya yang diidam-idamkan para remaja dalan menjalin hubungan adalah mencapai cinta yang sempurna. Namun sebenarnya cinta yang sempurna tidak akan pernah tercapai bila kita mewadahinya dalam pacaran. Cinta yang sempurna akan datang saat kejiwaan manusia sudah matang. Menurut Robert Sternberg, cinta yang sempurna dibangum dari 3 komponen yang seimbang. 3 komponen tersebut terdiri dari keintiman, gairah, dan komitmen. Keintiman meliputi seberapa dekat kita dengan seseorang hingga timbul keinginnan untuk membina hubungan. Gairah lebih mengarah pada dorongan dari dalam yang bersifat seksual. Dan komitmen berupa keputusan secara sinambung untuk menjalankan kehidupan bersama. 3 komponen itu harus seimbang, bila seimbang maka cinta yang sempurna bisa tercapai. Dan pernikahan yang matang adalah salah satu cara untuk mendapatkannya, bukan pacaran. Sebab semua remaja tidak bisa menyeimbangkan semua komponen ini. Keintiman akan sulit tercapai, karena para remaja mudah sekali bosan dalam membina hubungan. Gairah akan sulit diwujudkan, karena semua tindakan yang bersifat seksual dibatasi norma yang berlaku. Komitmen akan selalu goyah, karena kepribadiaan yang masih labil. Jadi kesempurnaan cinta itu sulit didapat saat remaja. Adapun yang memaksakan, maka akan terjadi kehancuran dalam hidupnya sendiri. Sebagai contoh, gairah yang terlalu dipaksakan akan mengarah pada perzinahan. Oleh karena itulah, islam melarang kita pacaran. Dan percayalah akan Qadha dan Qadhar Allah, bahwa jodoh sudah menunggu kita di pintu masa depan. Agama islam adalah agama yang sesuai dengan sisi kemanusiaan. Cinta yang sempurna saat ini adalah cinta yang diberikan Allah dan orangtua kita sendiri.
            Dan bila sekarang kalian sedang galau, maka bangkitlah! sebab kalian sudah membuang waktu berharga dalam hidup kalian untuk orang yang belum pasti menjadi pendamping atau jodoh kalian! sedangkan secara tidak sadar kalian juga sudah mengabaikan kasih sayang dan cinta yang besar dari orang-orang terdekat, terutama orangtua kalian. Jangan takut kehilangan seorang pacar, tapi takutlah ketika kehilangan Allah dan orangtua kalian.
            Seperti yang saya tulis di awal, cinta bermula dan bermuara pada Allah SWT semata. Dan kita tahu, sebaik-baiknya cinta ketika kita bisa mencintai seseorang karena Allah SWT. Karena ketika di padang mahsyar nanti, Allah SWT menghadiahkan kesejukan bagi mereka saat orang lain kepanasan dan ternggelam dalam keringatnya sendiri.
Hakikat cinta dalam kehidupan ini bila digambarkan maka akan membentuk sebuah segitiga. Dari satu sudut ke sudut yang lain saling berhubungan. Tetapi bila kita urai dari awal, maka hakikatnya semua cinta berawal dan berakhir di titik teratas, yaitu cinta Allah SWT. CintaNya selalu tercurah pada kita, tetapi apakah cinta kita selalu tercurah padaNya? CintaNya selalu ada setiap waktu untuk kita, tapi apakah cinta kita selalu ada setiap waktu untuk memenuhi panggilanNya (Sholat fardu)? Cintanya selalu memberikan segalanya untuk kita, tapi apakah kita pernah memberikan segalanya untukNya? Mari kita renungkan, sebab kapan lagi kita akan membalas untuk mencintaiNya. Hidup hanyalah sebuah jembatan, begitu tak terasa dan sangat singkat. Ajal mengintip kita dimana-mana. Hanya dengan mencintaiNya, maka kita bisa menikmati hidup, juga selamat dunia akhirat.

                                                                        Cinta pertama (Allah SWT)

 






                           Cinta ketiga (Jodoh)                                      Cinta kedua (Orangtua)

Demikianlah artikel saya, semoga bermanfaat. Kebenaran hanya datang dari Allah SWT, dan kesalahan juga kebodohan selalu muncul dari saya selaku hambaNya. Wallahualam.


0 komentar:

Post a Comment