Translate to your language

Sunday, July 1, 2018

PALU TUHAN DAN BATU DI KEPALAKU


            


            Rasa penasaran yang terus bergejolak. Aku menemukan jawaban, tapi tidak kunjung puas. Aku menemukan jawaban lagi yang lain, tapi tidak kunjung puas juga. Berhari-hari aku mencari jawaban hanya untuk memuaskan diri, betapa muskilnya hidup ini. Berulangkali juga saya bertanya pada teman-teman, dan mesin penjawab paling mutakhir di zaman ini. Namun, hasilnya tetap nihil. Aku hanya berpikir, apakah yang lebih besar ketika aku mencari jawaban? nafsu menjawab atau akal? Kepalaku seolah-olah sudah jadi batu, betapa keras dan berat. Aku sempat tidak mau lagi memikirkan jawaban ini, karena memang sebagian orang menganggap pertanyaan ini error, arah dari pertanyaan ini berlawanan. Namanya juga paradoks, pasti memuat hal kontradiksi, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. Tinggal dua kemungkinan, pertanyaan yang di dalamnya berlawanan ini akan saling menghancurkan atau menguatkan.
            Hari-hari berikutnya, aku hanya ingin merenungi setiap apa yang terjadi dan ekses dalam hidup ini. Ketika berkendara di motor dengan santai, tiba-tiba hal yang kuanggap sebagai sebuah jawaban pun menepuk kepalaku. Barangkali inilah cara Tuhan memberikan kisi-kisiNya. Dari kemarin akalku bebal karena terlalu bernafsu mencari jawaban. Sehingga aku kehilangan kejernihan pikiran dan ketenangan perasaan. Dan jawaban ini tidak akan pernah bisa memuaskan setiap orang, karena perbedaan daya interpretasi dan konklusi. Baiklah, inilah pertanyaan yang membatu dalam pikiranku, dan Tuhan memecahkannya dengan palu kebesaranNya.

          Apakah Tuhan yang Maha Kuasa bisa membuat sebuah batu yang tidak bisa diangkat oleh diriNya sendiri?

            Tuhan yang Maha Kuasa. Kuasa Tuhan itu soal penciptaan dan kekuatan. Tuhan mencipta batu adalah soal peciptaan, dan Tuhan mengangkat batu adalah soal kekuatan. Jawabannya terletak di antara dua inti itu yang saling berkorelasi. Tanpa peciptaan, kekuatan tidak bisa ditunjukan. Sebenarnya jawaban telah sampai di situ, dan jawaban itulah yang akan mengantarkan kita pada bisa atau tidak bisa. Tetapi namanya juga manusia yang tak pernah puas, mereka terus mengeksploitasi jawaban untuk menemukan kontras benar dan salah.
            Jawaban bisa atau tidak bisa tergantung pada tarekat dan makrifat seseorang tentang ketuhanan. Dan ini akan menjadi kebenaran subjektif, benar atau salah tergantung interpretasi seseorang. Soal penciptaan dan kekuatan, maka peciptaan lebih dulu ada dan lebih utama bila melihat konteks kata dalam kalimat pertanyaan di atas. Maka saya beranggapan Tuhan bisa membuat batu yang tidak bisa diangkat oleh diriNya sendiri. Bukankah kita mengenal kekuatan dan kebesaran Tuhan dari berbagai hal yang diciptakanNya?
            Maka sepantasnya ketika Tuhan Maha Pencipta maka dia juga sedang menunjukan kekuatanNya, meski dalam benak kita seolah-olah Tuhan sedang melemahkan diriNya dengan tidak bisa mengangkat batu tersebut. Kita terlalu menekankan kata mengangkat sehingga menganggap Tuhan begitu lemah, padahal dia yang menciptakanNya. Kalau dia tidak bisa mengangkatNya, bukankah dia bisa menghancurkan atau menghilangkanNya? Karena dialah sang Maha Pencipta.
            Analogi yang lebih kecil adalah ketika kita membuat sebuah mainan, dan ketika sudah jadi kita tidak bisa merubahnya lagi. Karena memang setiap sudutnya sudah dilem dan dipaku. Dan ketika hal itu terjadi, bukankah kita bisa menghancurkannya untuk membuatnya lagi? Karena kitalah penciptaNya. Banyak hal yang menunjukan seolah-olah Tuhan lemah dan mengantarkan kita untuk mengenal kekuasaanNya. Seperti kenapa Tuhan tidak membuat semua orang itu baik dan meyakini akan keberadaan diriNya? Di sinilah proses untuk sampai pada sebab. Sebab orang baik adalah mengenal buruk. Sebab orang meyakini keberadan adalah berawal dari ketiadaan. Baik dan buruk, yakin dan tidak yakin, begitu juga bisa atau tidak bisa adalah bagian kekuasaan Tuhan. Wallahu'alam bishowab.

Cianjur, 2018

Wednesday, April 4, 2018

“Ibu Indonesia” itu Ibu Kandung atau Ibu Tiri? Tenang, Ayah di sini!


“Ibu Indonesia” itu Ibu Kandung atau Ibu Tiri? Tenang, Ayah di sini!


sumber gambar: http://jabar.tribunnews.com

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat 
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya. 
(fjp/tor)

Puisi "Ibu Indonesia" itu sebenarnya indah, bisa jadi ibu kandung buat semua. Tetapi sekarang terkesan jadi ibu tiri yang suka mencaci maki. Aku bukan seorang kritikus sastra, aku hanya berusaha meredam kebencian. Kebencian yang saling dilemparkan hanya akan jadi kebencian yang bertambah besar, yang suatu waktu meledak lebih dahsyat dari bom Hiroshima di Jepang.
Aku hanya berusaha berprasangka baik pada setiap episode yang Tuhan berikan. Bila dilihat secara keseluruhan maka Puisi “Ibu Indonesia” ini penuh dengan pelukan nasionalisme. Ledakan nafsu orang-orang bermula dari cadar dan adzan. Tetapi sabarlah dulu, dalam puisi segala hal bisa terjadi. Cadar dan adzan di sini bisa jadi bermakna konotasi atau denotasi. Bila bermakna denotasi, maka ini bisa disebut penghinaan, tetapi bila bermakna konotasi—maka beda makna beda arti.
 Cadar adalah penutup sebagian muka. Tetapi dalam puisi ini, bisa jadi cadar adalah kebohongan yang menutupi kejujuran, cadar adalah dosa yang menutup pintu surga, cadar adalah egoisme yang menutup rasa nasionalisme, atau arti lainnya. Bila disambungkan dengan kalimat sebelumnya Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah, maka cadar ini adalah keegoisan kita sendiri yang menutup rasa cinta pada tanah air. Atau mungkin cadar di sini sebagai lambang ketertutupan pemerintah dalam mengelola negara.
 Adzan adalah panggilan untuk beribadah. Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, kalimat ini ditempat lebih dulu. Seperti yang kita tahu, ridho Allah ada pada ridho orangtua, teruatama Ibu. Bila dianalogikan, ketika kita akan melaksanakan solat, maka ibumu memanggil karena situasi yang darurat. Maka di saat kondisi itu, panggilan ibumu lebih merdu meskipun kita terlambat solat. Bila dianalogikan ke sebuah negara, nasionalisme adalah panggilan darurat, yang memerintahkan kita untuk menunda dulu urusan pribadi.
Ada penegasan dalam puisi ini, repetisi di bait awal dan ketiga; Aku tak tahu Syariat Islam. Islam adalah agama yang damai. Tidak pantas kita saling membenci atas ketidaktahuan seseorang. Saling sulut menyulut nafsu, dan memperkosa aib beramai-ramai. Sebagai agama yang berjiwa besar, memaafkan adalah tindakan terpenting yang harus diambil di situasi seperti ini, apalagi didasarkan atas ketidaktahuan. Atau memberi tahu dengan cara baik-baik adalah jihad atau dakwah yang sebenarnya. Eksistensi umat Islam sangat terlihat di zaman sekarang, tetapi esensinya mulai terabaikan.


Ayah Indonesia

Bu, bila letih menjumpa rintih,
maka tumpah segala sedih,
jadi laut yang terus mengaduh,
dalam dada paling gemuruh.

Bu, bila anak-anak terus bertengkar,
berebut buah manga dekat pagar,
maka kasihlah buah dadamu,
biar mereka tahu adab menyusu.

Bu, bila anak-anak terus saling membenci,
tidak mau diam malah saling menelanjangi,
panggilah segala resah arwah pahlawan
yang gentayangan di buku pelajaran.

Bu, bila anak-anak makin buas juga keras,
segerombolan serigala melolong dalam diri mereka,
tapi kau jangan luap mencemas,
usirlah dengan sayang paling purba.

Bu, bila anak-anak usianya makin tua,
tapi masih belum dewasa,
biar aku penjara mereka
di dalam celana.

Biar mereka tau bau di malam itu,
saat kita sama-sama gelisah di ranjang kemerdekaan.


MR. Maskur, 2018


Friday, March 30, 2018

CINTA; BARISAN ORANG-ORANG GILA

sumber gambar : google.com



                Orang-orang berebut definisi paling sempurna dari kata cinta. Misal, cinta itu kesempurnaan rasa, cinta itu rasa sayang yang tidak ada batasnya, cinta itu jatuh hati, cinta itu buah dada, cinta itu rupiah yang selalu gelisah, dan definisi lainnya. Tidak ada yang salah pada setiap definisi, karena pada dasarnya definisi selalu berdasarkan apa yang dilihat dan dirasakan. Bagiku cinta itu hantu, bagi yang tidak setuju, silahkan mengacungkan tangan di toiletnya masing-masing. Cinta itu ghaib, tidak memiliki bentuk dan rupa, bentuk dan rupanya didefinisikan dan digambarkan sesuai perasaannya masing-masing. Bagi orang yang sedang bersedih, cinta itu hantu yang menyeramkan, bahkan merasakannya saja takut. Bagi orang yang gembira, cinta itu hantu yang baik, yang selalu membuatnya tertawa atau tersenyum sendiri. Seperti orang gila, aku pernah gila, dan orang-orang yang bercinta itu gila. Aku katakan sekali lagi, orang yang bercinta itu gila, ini bukan karena aku jomblo. Tapi mereka memang gila. Cinta itu gila.
                Sebagaimana orang gila, mereka suka bertindak di luar nalar orang normal. Dan hal-hal gila di bumi ini disebabkan cinta. Seperti gilanya cinta Sangkuriang pada Dayang Sumbi, gilanya cinta Romeo dan Juliet; ini hanya sebagian orang-orang gila yang terkenal dalam kisah cinta. Gilanya qhorun pada hartanya, gilanya Fir’aun pada kekuasaannya; ini juga orang-orang gila yang terkenal di zaman dulu. Mari kita tanya pada diri, seberapa gila kita dalam hal mencintai. Di awal tadi, aku katakan cinta itu hantu, cinta itu gila. Sekarang, aku ingin mengatakan cinta itu candu, sebagaimana rokok atau zat adiktif lainnya. Orang yang merasakan cinta, akan terus ketagihan terhadap perasannya sendiri, akan terus menginginkan cinta dalam batas normal hingga abnormal, akan terus merasa tidak puas—bila hasrat ini berhenti, maka akan ada titik kejenuhan atau kebosanan. Di sinilah cinta diuji, kisah cinta adalah kisah yang klise, terus berulang pada cerita yang sama dengan tokoh berbeda. Dan keunikan tokoh itulah yang menentukan kualitas cerita tentang cinta. Seperti yang ramai diperbincangkan dari mulut ke mulut, dari hati ke hati, dari mata ke mata. Dilan, keunikan karakternya yang membuat cerita cintanya berhasil memukau remaja saat ini.
                Ada yang lebih besar lagi, dan tidak hanya memukau remaja, tapi memukau zaman. Kisah cinta Aisyah dan Rasulullah, Kisah cinta Nabi Ibrahim dan Allah, Kisah cinta Ismail dan Ayahnya, Kisah para sahabat yang mencintai Rasulullah, Kisah Adam dan Hawa. Dan kisah-kisah lainnya yang banyak bersumber dari Islam. Aku katakan kisah cinta terdahsyat dan terhebat kebanyakan bersumber dari Islam. Yang tidak setuju, boleh datang ke rumahku, jangan lupa sambil membawa kopi dan sekeranjang cemilan.  Aisyah dan Rasulullah pernah saling menunggu di depan pintu hingga mereka sama-sama tertidur, Ummu Umarah rela tertusuk panah demi melindungi Rasulnya, Ismail rela disembelih ayahnya sendiri. Dalam keadaan sadar, tidakkah semua hal itu gila? Tetapi cinta bukan tentang alam sadar lagi, cinta bisa jauh membawa kita pada alam bawah sadar—dimana seseorang bisa berbuat di luar batas normalnya. Cinta selalu meminta tumbal, ini menyeramkan, tapi orang tidak pernah menyadarinya. Tumbal itu berupa pengorbanan—entah itu, waktu, harta, bahkan nyawa. Maka bila ada orang yang mengungkapkan cinta padamu dalam keadaan sadar, ia sedang tidak benar-benar mencintaimu. Cintanya harus diuji dengan alam bawah sadarnya sendiri. Perasaan suka itu tentang ukuran mata, tapi perasaan cinta itu ukuran gila. Semakin gila, maka semakian cinta. Maka berhamburanlah orang-orang gila dimana-mana. Tetapi karena cinta itu dipandang sebagai sesuatu yang lumrah, maka kegilaannya pun tidak dianggap sebagai penyimpangan.
                Jadi bila disambungkan, cinta adalah hantu candu yang gila. Cinta adalah hantu yang baik, candu yang menstimulan perasaan, gila yang sehat—selama menganggap cinta sebagai produk Tuhan yang harus dinikmati setiap manusia dengan tafakur dan syukur.

Cianjur, 2018

Thursday, February 8, 2018

SEGEROMBOLAN SERIGALA DALAM DIRI KITA (Penyerangan PMOC)




Kekerasan hanya akan menimbulkan kekerasan yang lain. Kekerasan menimbulkan ketegangan. Ketegangan menimbulkan kegelisahan. Kegelisahan menimbulkan keresahan. Dan semuanya bermula dari kehancuran mental manusia. Manusia terlahir sebagai makhluk lemah, dan keadaan semakin memperlemah. Manusia-manusia yang tidak mempunyai kepercayaan diri untuk hidup, manusia-manusia yang sarat kegelisahan dalam hatinya, yang selalu resah menghadapi besok dan besok. Bayangan dunia memang selalu mengkhawatirkan, selalu menakutkan. Mereka yang selalu bertindak seolah sebagai dalang pengatur cerita di bumi ini. Lambung manusia terlalu sempit menerima semua rahmat-Nya. Dan manusia masih saja bertindak seperti itik yang memperebutkan makanan di sawah. Padahal hari esok saja tidak pasti buat dimiliki seseorang. Bahkan rezeki itu masih dalam bayangan, dan belum jelas siapa yang mendapatkannya.
Seperti air, siklus rezeki itu terus berputar, Mikail sibuk hilir mudik mengantarkan rezeki ke setiap saku dan rumah, meski hanya sepotong senyum mesra.Tapi itu lebih baik daripada menjarah nyawa. Seperti putaran ban, hidup itu terus berjalan, ada yang tertinggal dan ada yang terdepan. Apapun yang tertinggal, seperti Ojeg atau angkutan konvensional akan terus dinikmati sebagai ketradisionalan. Dan apa yang maju sekarang adalah hasil perkembangan yang sama-sama harus dinikmati. Hidup ini warna-warni, tumpeng-tindih, jungkir-balik—semuanya berada pada posisi dan warna masing-masing. Lantas bergantian posisi untuk sekedar saling mencicipi. Pikiran dan hati manusia selalu khawatir pada apa yang belum terjadi, menerka-nerka keadilan dan takdir dengan pikiran dan perasaan yang tidak pasti. Hey bung! Rezeki itu bukan wewenangmu, bahkan raja atau presiden sekali pun. Kutu di rambut pun tidak pernah khawatir saat seseorang keramas, sebab rezeki yang diberikanNya tidak pantas didemo.
Intelegensi manusia semakin meningkat, tetapi emosionalnya mengalami degradasi luar biasa. Intip saja layar televise di setiap pagi dan petang, betapa banyak kekerasan yang disebabkan kelabilan emosional. Ada segerombolan serigala yang berjaga dalam diri manusia, liar atau jinak bergantung pada orang yang memilikinya. Setiap yang menyimpang adalah kejahatan, lidah yang bohong adalah kejahatan, nafas  yang bau saja adalah kejahatan, bahkan kentutmu di ruang terbuka adalah kejahatan. Tidak ada gunanya saling berbalas kejahatan. Maka demi kemajuan bangsa, bukan hanya pembangunan dan kesejahteraan yang diutamakan, yang lebih penting adalah pembangunan mental dan spiritual.
Ketika kepercayaan hidup dalam diri manusia terisi penuh pada Tuhannya, maka tidak akan ada aksi kericuhan yang saling menghancurkan. Siapa lagi yang Maha Menjamin hidup ini? Tangan manusia tidak akan terlalu kuat untuk menjaminnya. Aksi swiping tukang Ojeg itu mirip hewan liar yang takut kehilangan jatah makan, perlu dikembalikan ke kandang agar menjadi manusia sebagaimana mestinya. Kota kecil ini menginginkan kedamaian, layaknya manula yang hanya ingin menatap semesta di pengujung usia.
Tidak perlu takut kehilangan penumpang, manusia di bumi ini makin bertambah. Rezeki yang baik selalu datang pada orang baik. Seperti gelombang radio, apapun yang dilakukan di masa sekarang, akan berdampak pada beberapa detik ke depan. Frekuensi kebaikan akan selalu mendatangkan kebaikan, begitu juga sebaliknya. Bila terus menuntut keadilan, maka bukan di sini tempatnya. Apa yang menjadi realita, itulah keadilan yang sempurna, tetapi otak kita terlalu bebal mencerna setiap keadilan dalam rahasia. Kita tidak akan pernah bisa jadi bangsa  yang baik, selama nafsu mendahului perasaan dan pikiran dalam menyelesaikan suatu masalah.  Mari jinakan segerombolan serigala  yang berjaga dalam diri kita. Negeriku yang ramah, negeriku yang gelisah.


Cianjur, 2017

Sunday, January 28, 2018

PUISI CHAIRIL ANWAR

 Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih periDan akan akan lebih tidak perduliAku mau hidup seribu tahun lagi



TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943


Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.



Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.


Kawanku dan Aku

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti


Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!



Doa

kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Kepada Peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku



Cerita Buat Dien Tamaela

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu


Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”
Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!


Hampa

Kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.


PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.


RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampakKulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalanKemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke manaRumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranakRasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu27 april 1943 


PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh


SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut sendaSepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
1944