Translate to your language

Wednesday, August 9, 2017

Konspirasi Bentuk Bumi

     Aku hanya orang bodoh. Terlalu bebal memahami semuanya. Tapi dalam kitabku, Tuhanku tak henti-hentinya menyuruhku berpikir. Dulu, aku berpikir bumi itu bulat. Mungkin kalau saat ini seperti tahu, lebih tepatnya tahu bulat. "Tahu bulat... digoreng dadakan.. lima ratusan.. haraneut keneh."(Nada dan iramanya yang akrab di telinga anak-anak Cianjur). Tapi, konon sekarang bumi itu datar. Bukan berubah bentuk. Hanya orang-oranglah yang merubah pikirannya. Beberapa pernyataannya bisa Anda saksikan di mang Youtube, terbagi menjadi beberapa episode (Flat Earth). Ini soal konspirasi. Tapi aku tak terlalu mengerti. Ini soal keterlaluan, dimana mereka terlalu pintar, dan aku terlalu bodoh. Kubaca kembali kitabku, sebuah potongan surat Albaqarah ayat 22; "Dialah yg menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu.." Firasyi atau hamparan, Tuhan apakah artinya ya? Otakku makin dungu saja. Tapi Kau menyuruhku selalu berpikir bukan? Oleh karena itulah aku tak pernah menyerah pada kedunguanku. Apakah dengan kata firasyi itu menerangkan bahwa bumi itu memang datar? Karena biasanya sesuatu yg terhampar berada di tempat yang datar. Tetapi tidak sepert itu juga, sebab sesuatu yang datar itu tergantung posisi tubuh dan mata kita saat melihat. Bisa saja sebuah jurang terlihat datar bila posisi tubuh dan mata kita sejajar dengan jurang tersebut. Hm…, kembali ke pikiran awal, sepertinya bumi itu bulat. Ah, aku memang bebal. Aku sebal. Kepalaku mulai sakit. Nyut… Nyut.. Nyut… Aku tahu, tak ada surat dalam kitabku yang menyuruhku berhenti berpikir. Sebuah ayat dalam Al-Quran tidak bisa diartikan secara gamblang seperti membaca komik anak-anak. Kita membutuhkan kontemplasi yang tinggi. Tuhan apakah Firasyi itu? Apakah Kau juga tidak tahu? Bukankah Kau yang menciptakannya? Dan kata guru sekolah agamaku, Kau itu yang Maha Tahu. Tetapi aku mengerti, seorang guru yang baik tak akan memberikan jawabannya dengan mudah pada muridnya. Begitu juga dengan Kau. Kau menyuruh kami berpikir, agar kami menjadi pintar bukan? Dan lulus lalu mendapatkan gelar. Dan sebaik-baiknya gelar di hadapan-Mu adalah taqwa bukan? Dan taqwa itu bukan hanya taat beribadah, tanpa memikirkan segala penciptaan-Mu. Taqwa itu adalah ketika kita saling memahami. Kau selalu memahamiku, dan dalam hidup ini giliranku yang memahami-Mu. Memahami segalanya tentang-Mu, termasuk memahami kenginanMu. Selain beribadah, Kau ingin aku berpikir. Baik, Tuhan aku akan berpikir lagi. Firasyi atau hamparan itu mungkin tak menerangkan bumi datar. Bisa saja hanya menerangkan sebagai lantai tempat kita berpijak di bumi ini, karena lanjutan dari surat Albaqarah ayat 22 itu adalah "dan langit sebagai atap.." Atap itu adalah bagian dari rumah, dan di bawah atap itu ada lantai. Lantai itu sebagai hamparan atau firasyi bagi kita. Jadi kalau secara utuh, Tuhan itu menggambarkan jagat raya ini sebagai rumah bagi seluruh makhluk hidup. Bila sebagai rumah, kucoba naik ke atap (=Langit) untuk melihat lantaiku (=Bumi), dan ternyata memang berbentuk hamparan atau firasyi. Hmmm…., bumi itu datar (Maaf aku plin-plan, tapi itu bukan sebuah jawaban akhir dari pertanyaan ini). Aku masih penasaran, aku pun pergi ke luar (=Angkasa luar). Ternyata dari luar, bentuknya tidak lagi datar, melainkan kotak dengan segitiga di atasnya. Hingga sampailah aku pada kesimpulan yang goblok dan amat sederhana bagi umurku yang ke 19 tahun di tanggal 24 Oktober nanti (Hanya informasi, tidak mengharapkan kado. Cukup doa aja sekalian barang atau makanan yang bisa dikirim ke alamat rumahku. Itu cukup membahagiakan kok). Jadi, kesimpulan dari otakku yang dungu adalah bumi itu terlihat datar bila kita yang melihatnya berada di langit, misalnya bila berada dalam pesawat. Dan bila kita pergi ke angkasa luar, maka bentuknya tidak lagi datar. Mungkin memang benar bulat, bisa juga kubus, bisa juga balok. Bahkan, bisa juga seperti lope, kue balok, kue bandros, atau apa saja terserah imajinasi Anda. Haha.. (sebab saya pun tak tahu bila melihat planet ini dari angkasa luar). Yang terakhir adalah betapa besarnya Kekuasaan Tuhan menciptakan rumah ini beserta seluruh isinya, tempat seluruh makhluk hidup memulai dan mengakhiri nafasnya. Juga tempatku bersujud, termasuk mensujudkan pikiranku tentang semua hal ini. Wallahu ‘alam.

Catatan Kepergian

05.45, keberangkatan menuju kota yang dilulur dingin, seperti wajahmu. Tidak, bukan wajahmu, mungkin hatimu. Barangkali butuh cinta atau sayang sebagai penghangatnya. Itu pun bila kau punya, bila tidak maka kuberikan untukmu secara gratis, seperti perjalanan ini. Perjalanan yang membuatku merasa bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Mungkin juga dalam hatimu, aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Tapi aku tetap mencintaimu, juga perjalanan ini. Seperti jarak yang tetap dicintai para musafir, meski membuatnya lelah dan lapar. Sebab kau tahu, dalam jarak ada keikhlasan dan pengorbanan. Ada juga waktu yang membuat kita harus sabar menunggu untuk berangkat atau pulang. Antara keberangkatan dan kepulangan, selalu ada rindu yang menuntunku. Kau tahu kenapa? Agar aku tak tersesat di setiap perjalanan, tak tersesat juga ke lain hati. Dan kerinduan itu juga yang membuat senyummu menjadi pengobat rasa lelah, menjadi sebotol air saat haus, menjadi sepiring nasi saat lapar, bahkan menjadi kompas saat aku lupa arah. Ah, apakah tulisanku terlalu mendayu seperti lagu cinta yg lawas? Rasanya tidak bila kau membacanya dengan perasaan, bukan pikiran. Sebab alur pikiran terlalu kaku untuk mengikuti bentuk sebuah perasaan. Begitulah kataku, seorang remaja yang ingin jadi ilmuwan cinta, namun tak pernah lulus mendapatkan gelar sarjana.

Selamat Pagi Facebook!

     Selamat pagi juga facebook, kau sungguh perhatian. Bila kau berupa dan berjenis kelamin perempuan, maka aku cinta padamu. Kubayangkan kau mempunyai paras yang cantik; mata yang berbinar, gigi putih bersih, tinggi semampai, hidung mancung, dan pipi yang lesung. Tetapi apakah artinya cinta bila kita tetap menjadi pendosa? Bukankah cinta itu murni, itu bersih, itu tinggi (Kata sebaris lirik lagu yang pernah kudengar, tapi tak kuhapal secara utuh). Apakah memang kita semua terlahir sebagai pendosa? Kau ingat cerita tentang Adam dan Hawa yang diturunkan ke bumi? Mereka saling mencintai, tapi tetap saja sebagai pendosa. Cinta dan dosa memang tak bisa dipisahkan, hampir menjadi satu kesatuan. Kau cemburu? Kau dendam? Kau sakit hati? Apa yang melatarbelakanginya? Cinta. Lantas cinta yang mana yang kau sebut murni, bersih, dan tinggi? Kukira lirik lagu itu tidak salah. Cintamu murni ketika kau tujukan pada Tuhanmu, dan Tuhanmu mencintaimu, sehingga terampunilah segala dosamu. Aku tak tahu ke mana arah pembahasan ini. Aku hanya sedang sakit kepala, dan gusiku bengkak. Andai Facebook tahu, pasti kau mengucapkan 'semoga lekas sembuh'. (MR. Maskur, 2017)

Catatan Nakal Minggu yang Biru

     Tubuhku sudah lama tak berolahraga, beberapa minggu ini terlalu lama duduk dan menatap komputer. Kering, lemas, dan kurus--perlu penyegaran. Prawatasari di hari minggu memang terbiasa menyambut keramaian--menyambut kegembiraan dan tak sedikit kesedihan orang-orang di kota kecil ini. Dan tensi darahku di pagi itu ternyata rendah, dan memang selalu rendah. Aku memeriksanya di tempat tensi gratis, dan yang memeriksanya adalah seorang wanita cantik (aku tidak sengaja memilihnya, mungkin hanya kebetulan saja. Kebetulan yang sengaja kubetul-betulkan). Dia memang cantik, sorot matanya bening, dan senyumnya cukup membuatku tidak makan selama seminggu. Senyumnya masih kusimpan, agar suatu waktu bisa kukenali lagi wanita itu. Wanita yang berulangkali mencari denyut nadiku di tengah musik orang-orang yang senam. Seharusnya itu bukan masalah, karena dia memakai stetoskop. Tetapi dia tetap mengatakan tidak bisa menemukan denyut nadiku. Mungkin dia yang terlalu gugup, ataukah aku? Ah itu bukan masalah. Tidak apa-apa dia tak menemukan denyut nadiku, biar tanganku dipegangnya dengan lama. Neng, kusembunyikan denyut nadiku di degup jantungmu, dan pipimu yang merah merekah.
Cianjur, 05 Februari 2017

Ada Kenikmatan dalam Keterlambatan

     Aku seringkali terlambat, entah itu ke sekolah, kantor, atau ke rumah teman. Tapi percayalah selalu ada kenikmatan Tuhan di sela-sela keterlambatan itu, aku selalu menemukan hal-hal puitis dalam keterlambatan itu. Menemukan berbagai inspirasi,dan menemukan hal-hal lainnya di banding orang yang tepat waktu. Selalu ada kekuatan yang membuat orang bekerja ekstra keras di sela keterlambatan. Fabiayyi aala irobbikuma tukadziban. Bagi saya sendiri keterlambatan itu kenikmatan, saya tak bisa mendustakannya, ini nikmat Tuhan. Ini seperti candu, kita tidak boleh mengkonsumsinya dalam dosis berlebih. Tapi tidak semua keterlambatan itu mempunyai kenikmatan. Kenikmatannya itu ketika kita tahu hikmah dalam setiap masalah, termasuk keterlambatan. Begitu baik Tuhan, senantiasa menghadirkan kenikmatan dalam masalah sekalipun. Karena baiknya Tuhan, kita jangan sering terlambat ketika diperintah olehNya. Kalau sesama makhluk, terlambat sedikit tidak apa-apa, paling dimarahi. Tapi keterlambatanku sudah mencapai titik kejenuhan. Sekarang, aku ingin menjadi orang tepat waktu. Tapi entahlah, terkadang waktu tak menepatiku.