Translate to your language

Wednesday, August 30, 2017

CHOYANG; TERAPI JIWA SEBELUM KE SURGA


                 Terapi adalah salah satu cara sembuh dari berbagai penyakit, selain berobat ke dokter dan minta doa ke ustadz, atau jampe ke dukun. Waktu yang ditempuh dalam proses terapi itu memang cukup lama, tidak seperti obat dari resep dokter yang menyembuhkan dalam tempo sesingkat-singkatnya, singkat menuju sembuh dan singkat menuju sakit lagi. Ibarat orang yang menaiki kendaraan, orang yang menempuh jalan terapi ini seperti menaiki becak, begitu lambat tetapi aman, dan dalam perjalanan itu kita bisa melihat pemandangan suasana sekitar yang bisa menghibur rasa sakit kita. Berbeda dengan yang menempuh jalan operasi atau berobat ke dokter, itu bagai naik motor dengan kecepatan di atas 120km/jam di jalan rawan kecelakaan sehabis hujan tanpa rem depan maupun belakang, dijamin ditilang malaikat ketika sudah selamat sampai kuburan. Di kotaku, ada sebuah tempat terapi yang bisa memanipulasi usia, para manula yang datang ke sana akan tiba-tiba menjadi muda kembali, bahkan manusia purba yang datang ke sana pun akan merasa menjadi anak-anak lagi. Ini memang sulit dipercaya, seperti dongeng atau film layar lebar ciptaan Amerika yang penuh fantasi dan bualan.
                Tentu tidak, ini bukan kebohongan, aku melihat dengan mataku sendiri. Oh tidak, bukan, bukan mataku sendiri, ini mata milik Tuhan. Tetapi ini memang benar adanya, orang yang masuk ke sana kebanyakan dari kalangan manusia lama; manusia yang sudah bosan menginap di dunia. Itu terlihat dari cara jalan mereka yang  sudah malas, kulit yang sudah tidak mau kencang lagi, dan gigi yang menolak tumbuh kembali. Biar kudeskripsikan satu persatu dari sekian jenis manusia lama yang masuk ke sana. Spesies pertama, makhluk lama yang urat-uratnya sudah asam, cocok dijadikan bahan pengganti cuka, maksudku makhluk lama ini mempunyai penyakit asam urat, di mana merasa nyeri di daerah persendian. Spesies kedua, makhluk lama yang memiliki berbagai kelebihan, inilah manusia lama yang paling tinggi di antara yang lain; darahnya tinggi, kolesterolnya tinggi, asam uratnya tinggi, dan penyakit lainnya yang membuat mereka lebih unggul dibanding yang lain. Spesies ketiga, makhluk lama yang mengidap penyakit kejombloan luar biasa, bisa jadi duda atau janda, bisa jadi cerai atau Jodi—dalam kurung jomblo ditinggal mati—dibaca cerai mati. Kesepian dan kesenderian yang menyebabkan penyakit muncul di manusia macam itu. Tetapi tidak hanya pada manusia lama, sebab yang muda juga jika ditinggal kekasihnya pasti menderita, dan hal itu bisa berdampak buruk pada kejiwaan, kesehatan, keimanan, kesejahteraan, hingga dapat menyebabkan kanker, impontensi, dan gangguan kehamilan. Intinya awas! Kejombloan membunuhmu. Dan masih banyak spesies lainnya yang tidak dapat kujelaskan, karena keterbatasan riset untuk meneliti mereka satu persatu, dan masih banyak juga spesies yang belum kutemukan. Melihat mereka seperti menziarahi masa kecil kita sebagai seorang manusia yang pernah mengalami masa kanak-kanak.
                Dan semua spesies tersebut bisa di temukan di Choyang, sebuah tempat terapi yang bisa memanipulasi usia, di sini tidak ada yang tua, semuanya muda—ini surga yang diciptakan tawa dan bahagia. Bila pagi dan melewati Jalan IR. H. Juanda di kota Cianjur ini, maka terlihatlah mereka sedang menggerakan badan, senam dengan gerakan yang luar biasa apa adanya, terlihat semangat membara di setiap tawanya. Meski pun sudah tua, kekompakannya sungguh tidak diragukan lagi kacaunya, tapi mereka tetap bahagia, bersenam ria layaknya anak TK dan SD yang menggemaskan. Bila sudah selesai, mereka semua masuk ke ruangan. Kemudian ada staff guru datang, mereka menyambutnya dengan tepuk tangan seperti film upin dan ipin. Selamat pagi cekgu! Kurang lebih seperti itu, tapi jangan terkejut, makhluk lama di sini pandai sekali berbahasa korea, mereka menyapa gurunya dalam Bahasa korea. Bahkan, batuk dan kentut pun mereka biasa menggunakan Bahasa korea. Sungguh prestasi luar biasa, yang tidak bisa didapat di daerah mana pun. Mereka biasanya diberi arahan tentang cara menjaga kesehatan dan penyuluhan berbagai penyakit. Sesekali mereka bercanda, dan tertawa. Duh! Lihatlah wajah mereka yang menggemaskan, kulit-kulit keriput yang kembali kencang dalam waktu sesaat karena tertawa dengan keras. Seolah tidak ada beban hidup yang menindih hati dan kepalanya, mereka semua tertawa lepas dan terlihat bahagia, meski masih ada juga yang terlihat murung atau malu, barangkali murid baru yang belum beradaptasi sepenuhnya. Bila selesai pembelajaran, maka mereka akan mulai terapi dengan sesinya masing-masing.
Ada dua alat terkenal di sini, yaitu Choeun Haroo si tukang pijat, dan Choeun Achim si tukang panas. Ada juga frekuensi yang biasa digunakan orang yang stroke. Aku lebih kenal dua alat itu, mereka lebih familiar dan banyak di sana. Choeun Haroo ini tukang pijat yang ulung, ia bisa mengembalikan tulang belakang ke tempat semula, dan beberapa jurus lainnya yang membuat badan sehat dan kuat. Choeun Achim ini tukang panas memanaskan orang, keahliannya mengeluarkan darah kotor melalui keringat, bila orang terlentang atau telungkup di sini, dijamin mandi keringat luar biasa bercucuran sampai ke pantat, ia juga mempunyai jurus lain yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Jika menggunakan frekuensi, badan atau anggota tubuh kita suka gerak sendiri, seperti ada jin yang menggerakannya, ini bukan horror, tidak juga bercanda. Semua alat itu memiliki sebuah batu ajaib, bukan batu ponari, namanya batu superdana. Aku tidak tahu asal muasalnya, sehinnga si Dana bisa menemukan batu super yang bisa berharga sampai puluhan juta dan bermanfaat bagi penduduk dunia. Ampuh terbukti! Banyak orang berpenyakit parah yang tidak jadi operasi, sungguh luar biasa alat tersebut, ternyata tidak jadi operasi karena tidak punya uang yang cukup untuk membiayai. Jangan dulu tertawa, memang benar, banyak orang yang menempuh jalan terapi dan tidak jadi operasi, karena dengan perlahan penyakitnya sembuh.
                Bukan hanya karena alat terapi saja, tapi karena staff gurunya yang membuat mereka tertawa setiap hari, sehingga beban pikiran mereka hilang di muka bumi. Ya, menurutku, awal datang penyakit itu dari pikiran dan perasaan yang tidak sehat. Pikiran adalah komando penggerak untuk setiap anggota tubuh kita, dan perasaan adalah hati yang merasakan setiap keadaan. Dan dua hal itu adalah satu kesatuan yang harus tetap sehat. Bila komando penggerak tubuh kita sakit, maka anggota tubuh yang lain juga akan ikut sakit. Bila hati kita sakit, maka setiap keadaan pun akan menjadi sakit. Maka tertawa dan tersenyum adalah obat mujarab bagi mereka yang berpenyakit. Setidaknya jika meninggal, mereka dalam keadaan tersenyum, bukan murung dan melotot karena pikiran dan perasaan yang tidak menyenangkan.
                Staff guru di sana bisa sebagai dokter, tempat bercerita, guru, perawat, tukang pijat, tukang lawak, dan lain-lain. Kukatakan demikian, karena memang mereka begitu perhatian terhadap pasien atau tamu yang datang, tidak segan-segan mereka menganggap keluarga. Dan memperilakukan mereka layaknya ibu atau ayahnya sendiri, atau kakaknya sendiri, atau juga pacarnya sendiri. Lingkungan yang sehat tercipta karena keakraban dan kekeluargaan, ini juga mendukung proses penyembuhan. Bagi mereka yang tinggal sendirian di rumahnya, maka Choyang adalah tempat terapi sekaligus panti asuhan, bisa juga jadi tempat hiburan. Berbagai macam tingkah makhluk lama akan terus menghibur di setiap harinya, perilaku kocak yang jarang didapatkan di dunia luar yang penuh gengsi. Ada yang senang berjoged, menyanyi, dan ada yang diam saja—tapi diam mereka pun tetap lucu, wajah imut yang berkerut tidak kusut atau cemburut seperti cecurut atau cangcut, hanya keriput.
                Sebenarnya tidak hanya makhluk lama yang datang ke sana, banyak juga dari kalangan ibu atau bapak muda. Karena mereka menyadari pentingnya kesehatan bagi kehidupannya beberapa tahun ke depan. Penyakit tidak hanya hadir di masa tua, tapi juga bisa menyapa masa muda. Ya, seperti seorang remaja yang berkonsultasi, dan ternyata mempunyai kolesterol tinggi. Apakah remaja itu bahagia karena berprestasi dengan mendapatkan kolesterol tinggi? Menurutku tidak, pasti ia kecewa, bayangan menyakitkan tergambar di pikirannya beberapa tahun ke depan. Barangkali nanti ia stroke, atau serangan jantung, syukur-syukur langsung menghadap Tuhan yang Maha Kuasa.
                Oh, ya staff guru atau perawat atau pengasuh atau dokter atau apalah mereka yang membimbing di sana, mereka semua masih sangat muda, bahkan lebih muda dariku. Tapi aku salut pada mereka, mereka dengan lemah lembut membimbing dan memperhatikan setiap pasien atau tamu yang masuk. Aku melihat keikhlasan atau ketulusan di wajah mereka. Tetapi sedikit promosi juga terlihat di sana. Maaf, hanya bercanda. Mereka adalah bidadari dan bidadara (ada satu staff laki-laki juga, biar tidak iri) dunia yang ikut memperjuangkan kesehatan para manusia dari serangan para penyakit bertopeng di dunia, yang merampas harta manusia paling berharga, yaitu senyuman dan tawa. Mereka adalah pahlawan yang harus diberi penghargaan oleh negara karena telah memperjuangkan kesehatan rakyatnya, terutama para manula. Tetapi sepertinya negara tidak bangga, mungkin berbalik jadi tidak suka pada mereka, karena dengan kembali sehatnya para manula maka angka kematian di negara ini makin menurun, dan populasi semakin padat. Ah, tetaplah berbaik sangka. Karakter para staff guru sangat beragam, seperti beragamnya ranger di filmnya, salah satunya Wanita Berkolam Airmata—senjatanya ia bisa mengeluarkan airmata kapan saja dan di mana saja. Dan banyak lagi ranger lainnya, aku tidak tahu kekuatan mereka, nanti harus kudata biar bisa dijadikan tandingan film powerranger selanjutnya.
                Aku tidak tahu harus menulis apa lagi, aku bersyukur bisa mengenal tempat itu beserta orang-orangnya yang luar biasa. Orang tua yang merasa kembali muda, dan orang muda yang merasa semakin muda, karena memang rata-rata orang tua. Di sinilah orang-orang berpenyakit bisa sembuh karena senyum dan tawa yang menterapi jiwa. Choyang, tempat sehat yang harus kalian kunjungi sebelum ke surga.


MR. Maskur, 2017

Thursday, August 10, 2017

Kasus Penghinaan Lambang Negara

    Saat ini media pers terkesan mementingkan keramaian dari sebuah berita, dibanding bobot manfaatnya bagi masyarakat. Bukankah sifat humor dalam diri seseorang itu adalah sesuatu yang wajar? Dan saya yakin seorang pejabat sekalipun pasti sering nyeloteh santai bila menjawab sebuah pertanyaan. Namun, memang jelas ia salah menempatkan celotehannya. Ia dianggap menghina lambang negara kita yang sakral. Padahal di luar sana, orang-orang baik dari kalangan masyarakat maupun pemerintah juga sama menghinakannya, lebih parahnya lagi bukan hanya lambang negara, tapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (nilai-nilai pancasila). Mereka menghina tidak dengan perkataan, tapi dengan buruk tingkah laku dan perbuatan. Apakah korupsi bukan sebuah penghinaan untuk negeri kita? Bila bukan, saya takut bangsa ini menganggap lambang negara sebagai berhala, menyembahnya seperti Latta dan Uzza, lantas mudah marah bila orang menghinanya. Padahal lambang negara hanyalah sebuah penyimbolan dari nilai-nilai yang jauh lebih dalam. Jadi apa yang lebih penting antara lambang negara atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya? Jadi apa yang lebih parah antara penghinaan dengan perkataan terhadap lambang negara atau penghinaan denga perilaku terhadap nilai-nilainya?. Sedangkan di media sosial orang-orang juga ramai mencaci dan memarahinya. Tapi apakah itu adalah sikap yang bijak? Mungkin lebih baik menasehati dan menutupinya diam-diam. Sebagai seorang manusia kita sudah sepatutnya menjaga keburukan atau aib orang lain. Dan dalam islam pun sama, seorang muslim yang membuka aib orang lain itu seperti memakan mayat saudaranya sendiri. Sudahlah, sudah banyak keburukan yang diumbar tentang negeri kita sendiri. Mungkin wajah negeri kita sudah merah sekali, sudah malu berkali-kali. Ini bukan pembelaan, tapi pengkajian terhadap kebenaran. Ah aku hanya bocah, tak pantas berbicara benar atau salah. Lebih baik meminta pendapat pada para tetua, hehe (terkait kasus seorang artis yang menghina lambang negara)

Wednesday, August 9, 2017

Konspirasi Bentuk Bumi

     Aku hanya orang bodoh. Terlalu bebal memahami semuanya. Tapi dalam kitabku, Tuhanku tak henti-hentinya menyuruhku berpikir. Dulu, aku berpikir bumi itu bulat. Mungkin kalau saat ini seperti tahu, lebih tepatnya tahu bulat. "Tahu bulat... digoreng dadakan.. lima ratusan.. haraneut keneh."(Nada dan iramanya yang akrab di telinga anak-anak Cianjur). Tapi, konon sekarang bumi itu datar. Bukan berubah bentuk. Hanya orang-oranglah yang merubah pikirannya. Beberapa pernyataannya bisa Anda saksikan di mang Youtube, terbagi menjadi beberapa episode (Flat Earth). Ini soal konspirasi. Tapi aku tak terlalu mengerti. Ini soal keterlaluan, dimana mereka terlalu pintar, dan aku terlalu bodoh. Kubaca kembali kitabku, sebuah potongan surat Albaqarah ayat 22; "Dialah yg menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu.." Firasyi atau hamparan, Tuhan apakah artinya ya? Otakku makin dungu saja. Tapi Kau menyuruhku selalu berpikir bukan? Oleh karena itulah aku tak pernah menyerah pada kedunguanku. Apakah dengan kata firasyi itu menerangkan bahwa bumi itu memang datar? Karena biasanya sesuatu yg terhampar berada di tempat yang datar. Tetapi tidak sepert itu juga, sebab sesuatu yang datar itu tergantung posisi tubuh dan mata kita saat melihat. Bisa saja sebuah jurang terlihat datar bila posisi tubuh dan mata kita sejajar dengan jurang tersebut. Hm…, kembali ke pikiran awal, sepertinya bumi itu bulat. Ah, aku memang bebal. Aku sebal. Kepalaku mulai sakit. Nyut… Nyut.. Nyut… Aku tahu, tak ada surat dalam kitabku yang menyuruhku berhenti berpikir. Sebuah ayat dalam Al-Quran tidak bisa diartikan secara gamblang seperti membaca komik anak-anak. Kita membutuhkan kontemplasi yang tinggi. Tuhan apakah Firasyi itu? Apakah Kau juga tidak tahu? Bukankah Kau yang menciptakannya? Dan kata guru sekolah agamaku, Kau itu yang Maha Tahu. Tetapi aku mengerti, seorang guru yang baik tak akan memberikan jawabannya dengan mudah pada muridnya. Begitu juga dengan Kau. Kau menyuruh kami berpikir, agar kami menjadi pintar bukan? Dan lulus lalu mendapatkan gelar. Dan sebaik-baiknya gelar di hadapan-Mu adalah taqwa bukan? Dan taqwa itu bukan hanya taat beribadah, tanpa memikirkan segala penciptaan-Mu. Taqwa itu adalah ketika kita saling memahami. Kau selalu memahamiku, dan dalam hidup ini giliranku yang memahami-Mu. Memahami segalanya tentang-Mu, termasuk memahami kenginanMu. Selain beribadah, Kau ingin aku berpikir. Baik, Tuhan aku akan berpikir lagi. Firasyi atau hamparan itu mungkin tak menerangkan bumi datar. Bisa saja hanya menerangkan sebagai lantai tempat kita berpijak di bumi ini, karena lanjutan dari surat Albaqarah ayat 22 itu adalah "dan langit sebagai atap.." Atap itu adalah bagian dari rumah, dan di bawah atap itu ada lantai. Lantai itu sebagai hamparan atau firasyi bagi kita. Jadi kalau secara utuh, Tuhan itu menggambarkan jagat raya ini sebagai rumah bagi seluruh makhluk hidup. Bila sebagai rumah, kucoba naik ke atap (=Langit) untuk melihat lantaiku (=Bumi), dan ternyata memang berbentuk hamparan atau firasyi. Hmmm…., bumi itu datar (Maaf aku plin-plan, tapi itu bukan sebuah jawaban akhir dari pertanyaan ini). Aku masih penasaran, aku pun pergi ke luar (=Angkasa luar). Ternyata dari luar, bentuknya tidak lagi datar, melainkan kotak dengan segitiga di atasnya. Hingga sampailah aku pada kesimpulan yang goblok dan amat sederhana bagi umurku yang ke 19 tahun di tanggal 24 Oktober nanti (Hanya informasi, tidak mengharapkan kado. Cukup doa aja sekalian barang atau makanan yang bisa dikirim ke alamat rumahku. Itu cukup membahagiakan kok). Jadi, kesimpulan dari otakku yang dungu adalah bumi itu terlihat datar bila kita yang melihatnya berada di langit, misalnya bila berada dalam pesawat. Dan bila kita pergi ke angkasa luar, maka bentuknya tidak lagi datar. Mungkin memang benar bulat, bisa juga kubus, bisa juga balok. Bahkan, bisa juga seperti lope, kue balok, kue bandros, atau apa saja terserah imajinasi Anda. Haha.. (sebab saya pun tak tahu bila melihat planet ini dari angkasa luar). Yang terakhir adalah betapa besarnya Kekuasaan Tuhan menciptakan rumah ini beserta seluruh isinya, tempat seluruh makhluk hidup memulai dan mengakhiri nafasnya. Juga tempatku bersujud, termasuk mensujudkan pikiranku tentang semua hal ini. Wallahu ‘alam.

Catatan Kepergian

05.45, keberangkatan menuju kota yang dilulur dingin, seperti wajahmu. Tidak, bukan wajahmu, mungkin hatimu. Barangkali butuh cinta atau sayang sebagai penghangatnya. Itu pun bila kau punya, bila tidak maka kuberikan untukmu secara gratis, seperti perjalanan ini. Perjalanan yang membuatku merasa bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Mungkin juga dalam hatimu, aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Tapi aku tetap mencintaimu, juga perjalanan ini. Seperti jarak yang tetap dicintai para musafir, meski membuatnya lelah dan lapar. Sebab kau tahu, dalam jarak ada keikhlasan dan pengorbanan. Ada juga waktu yang membuat kita harus sabar menunggu untuk berangkat atau pulang. Antara keberangkatan dan kepulangan, selalu ada rindu yang menuntunku. Kau tahu kenapa? Agar aku tak tersesat di setiap perjalanan, tak tersesat juga ke lain hati. Dan kerinduan itu juga yang membuat senyummu menjadi pengobat rasa lelah, menjadi sebotol air saat haus, menjadi sepiring nasi saat lapar, bahkan menjadi kompas saat aku lupa arah. Ah, apakah tulisanku terlalu mendayu seperti lagu cinta yg lawas? Rasanya tidak bila kau membacanya dengan perasaan, bukan pikiran. Sebab alur pikiran terlalu kaku untuk mengikuti bentuk sebuah perasaan. Begitulah kataku, seorang remaja yang ingin jadi ilmuwan cinta, namun tak pernah lulus mendapatkan gelar sarjana.

Selamat Pagi Facebook!

     Selamat pagi juga facebook, kau sungguh perhatian. Bila kau berupa dan berjenis kelamin perempuan, maka aku cinta padamu. Kubayangkan kau mempunyai paras yang cantik; mata yang berbinar, gigi putih bersih, tinggi semampai, hidung mancung, dan pipi yang lesung. Tetapi apakah artinya cinta bila kita tetap menjadi pendosa? Bukankah cinta itu murni, itu bersih, itu tinggi (Kata sebaris lirik lagu yang pernah kudengar, tapi tak kuhapal secara utuh). Apakah memang kita semua terlahir sebagai pendosa? Kau ingat cerita tentang Adam dan Hawa yang diturunkan ke bumi? Mereka saling mencintai, tapi tetap saja sebagai pendosa. Cinta dan dosa memang tak bisa dipisahkan, hampir menjadi satu kesatuan. Kau cemburu? Kau dendam? Kau sakit hati? Apa yang melatarbelakanginya? Cinta. Lantas cinta yang mana yang kau sebut murni, bersih, dan tinggi? Kukira lirik lagu itu tidak salah. Cintamu murni ketika kau tujukan pada Tuhanmu, dan Tuhanmu mencintaimu, sehingga terampunilah segala dosamu. Aku tak tahu ke mana arah pembahasan ini. Aku hanya sedang sakit kepala, dan gusiku bengkak. Andai Facebook tahu, pasti kau mengucapkan 'semoga lekas sembuh'. (MR. Maskur, 2017)