Translate to your language

Wednesday, January 24, 2018

SAKARATUL REZEKI AKHIR BULAN


Image result for sekarat

           Akhir bulan, uang pengakhiran, isi dompet pengakhiran, gelisah pengakhiran, seperti memasuki sekarat; hidup pengakhiran—tapi aku merasa bulan ini rezeki mengalir tidak lancar, tidak seperti beberapa bulan sebelumnya. Barangkali ada yang menyumbatnya. Rasanya gelisah ini meracuni pikiran setiap orang yang tidak berduit di akhir bulan (bagi para pegawai). Untuk para pedagang atau pembisnis, mungkin penjualan mereka yang menurun, atau kesulitan mendapatkan pembeli. Kondisi ini saling menular dan pasti pernah dialami setiap orang. Perlu diselidiki, kita harus mencari ke hulu aliran rezeki kita sendiri. Doa kita kurang luar biasa? Sujud kita kurang dekat pada Tuhan? Wah, kita harus menelepon Tuhan. Biar Tuhan menghubungi malaikat Mikail, takutnya Mikail salah alamat memberi rezeki.
              Di perjalanan menuju kantor, aku tidak berhenti merenung, sisa uangku sangat tipis, bila diperhitungkan, maka tidak akan cukup menuju awal bulan selanjutnya. Kalau aku punya nomor malaikat Mikail, aku pasti sudah menelponnya, tidak apa-apa deh dapat pinjaman aja. Apa aku salah dalam me-manage uang? “Tiiiiiit……!!!!” Waduh hampir saja aku menabrak motor yang akan menyebrang.
“Euh bapak! Nyebrang itu hati-hati pak!” (aku spontan marah-marah)
“Iya iya maaf dek.”(Wajah si bapak begitu terkejut)
Tunggu, tunggu, seharusnya si bapak tadi yang marah padaku. Tadi terbalik, aku jadi merasa bersalah. Apa harus kuulangi lagi kejadian tadi? Terus nyuruh si bapak dulu yang marah.
“Pak tadi aku yang salah, ulangi lagi yu kejadiannya. Nanti bapak aja yang marah duluan, aku ikhlas kok.”
Sempat aku berpikir seperti itu. Tapi tidak, untung saja si bapaknya tidak sama-sama naik darah. Hati-hati, peradilan di jalan itu kadang sangat tidak adil, yang salah pun bisa tiba-tiba jadi pemenang. Hal ini gara-gara aku terlalu memikirkan rezeki yang tersendat. Ya Tuhan, apa salahku? Salahmu banyak! (hati kecilku menjawab dengan spontan)
                Apa Tuhan sudah tidak sayang lagi padaku, atau aku yang kehilangan sayangMu. Aku merasa di awal bulan uangku banyak, dan diperkirakan cukup sampai bulan depan. Namun, semuanya hilang begitu saja seperti angin berlalu menyapu, tidak meninggalkan apapun. Saldo tabunganku juga tidak tersisa, simpananku habis pula. Sempat terpikir mencari pinjaman, tapi kuurungkan juga. Aku menelepon Tuhan di waktu isya, tapi belum dijawab. Aku menelepon Tuhan di waktu subuh, tapi terlalu siang, mungkin doaku jatuh kembali ke halaman. Yang terakhir, aku harus menelepon Tuhan di waktu dhuha, barangkali doaku cepat sampai, cepat dapat solusi untuk semua ini.
                Di sela pekerjaan, aku mengambil air wudhu, dan langsung melaksanakan dhuha. Dengan lembut, aku memanggilMu, seperti seorang kekasih menyampai rindu. Seperti seorang anak merajuk dan meminta maaf pada ibunya. Tuhan, maaf aku selalu berprasangka buruk. Air wudhu dan dhuha itu memperlancar kembali urat-uratku, menyadarkan saraf-sarafku. Aku sadar, akulah yang salah, akulah yang selalu lupa, akulah yang tak sadar pada dosa-dosa kecil. Maaf Tuhan, aku telah menjarah hak orang miskin dan anak yatim. Aku lupa mengeluarkan sedekah bulan ini, pantas saja aliran rezeki tersumbat.
                Aku telah menemukan titik pangkal masalahnya. Kejadian di jalan tadi itu adalah teguran untukku. Aku malah makin marah. Aku malah tambah tidak sadarkan diri. Aku lupa diri. Tuhan, kita baikan lagi ya.
Untung uangku masih ada sisa. Tetapi aku bingung, ini uangku buat menyambung hidup ke bulan depan. Kalau semuanya disedekahkan, maka semuanya habis. Setelah diperhitungkan, ternyata sedekah itu juga masih kurang. Duh, beginilah manusia, tempat kebingungan dan kegelisahan. Selalu bersusah payah dan memang payah. Lahaula walakuwata illa billah, aku telah merampas hak orang lain, maka aku sedekahkan semuanya, dan yang kurangnya akan kusedekahkan di bulan depan. Aku jadi ingat, 2.5% itu tidak cukup, lebih baik 10% atau selebihnya. Kalimat itu selalu aku sesuaikan dalam berbagai kondisi, yang terpenting di atas 2.5%.
Aku recehkan uangku, kumasukkan dalam amplop kecil satu-persatu. Mungkin aku hanya kelaparan beberapa hari, dan hanya di kantor saja. Di luar sana, berjuta-juta orang kelaparan dalam waktu berminggu-minggu. Ini semua disebabkan orang sepertiku, manusia itu tempatnya lupa. Kalau sudah ingat terus pura-pura lupa itu sudah menyalahgunakan fasilitas lupa, Tuhan bisa mengadzab kita.
Uangku sudah tidak tersisa, ditukarkan dengan kebahagiaan luar biasa. Seolah-olah tidak ada lagi masalah dan beban yang menindih kepalaku. Senyuman dan ucapan terimakasih dari orang-orang yang menerima sedekah itu mengobati kecemasanku menuju bulan depan. Inilah rezeki yang sebenarnya, Mikail mengantarkan senyum dan kebahagiaanku.
Sakaratul rezeki itu memang berat, tapi bukan akhir hayat, rezeki kitalah yang tersumbat. Tidak lama setelah itu, rezeki yang tidak disangka-sangka berdatangan silih berganti. Aku sempat bingung kembali. Dasar manusia, sudah bahagia masih saja bingung lagi. Rezeki itu seperti berlombaan memasuki dompet dan tabunganku, tidak terbendung. Aliran rezekinya sangat lancar, seolah-olah hujan besar di hulu mengalirkan semuanya. Aku tidak mau membendungnya sendiri—kualirkan kembali.
Tuhan mengirim WA padaku, aku ingat pesannya seperti ini, “Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh [2]: 261)
Aku buru-buru membalas pesan WA-nya, “Ya Allah, love you so much. Mmmuacccchh…”


Cianjur, 2018

Tuesday, January 23, 2018

MENABUNG PADA TUHAN


SMK kelas 1, teman-temanku sudah dengan gadgetnya masing-masing. Aku masih dengan handphone masa lalu alias jadul, tapi ini bukan handphone mantan (meski beberapa pesan sengaja kumeseumkan sebagai draft). Aku berusaha menyisihkan uang jajan, membeli celengan, menabung pada ibu. Semuanya gagal, aku terlalu boros. Uang jajanku juga terlalu kecil, belum lagi dipotong ongkos sekolah. Bila memasukan uang ke celengan di pagi hari, aku suka mengeluarkannya di sore hari. Tidak ada bedanya bila menabung pada ibu, aku suka memintanya kembali saat tidak punya uang.
Image result for Menabung
Sumber gambar : https://www.halomoney.co.id
                Tuhan menutup satu jalan, tapi tersedia 9 jalan lainnya. Aku masih produktif menulis puisi, aku mencoba menulis beberapa puisi untuk dikirimkan ke beberapa penerbit. Payah, tidak ada satu pun yang lolos. Tuhan, begitu dangkal hati manusia, kadang penuh prasangka buruk. Ternyata di saat terpuruk seperti itu, Tuhan memberi kabar gembira. Tiba-tiba ada pemberitahuan di surel bahwa puisiku lolos seleksi, dan terbit di salah satu majalah sastra pelajar (majalah itu adalah majalah horizon, sayang sekarang sudah tenggelam, padahal dialah empunya majalah sastra terkenal sejak dulu). Aku sudah lupa puisinya yang mana, aku gembira tidak karuan. Pihak penerbit menyuruhku mengirimkan nomor rekening bank—aku tidak punya. Akhirnya honor itu dikirim lewat wesel POS. Honornya tidak begitu besar—tidak sampai berjuta-juta, cukup 100 ribu yang membuat berjuta-juta bahkan milyar kebahagiaan tumbuh dalam diriku.
                Itu batu loncatan, tidak ada gadget harga 100 ribu. Aku terus menabung tulisan, beberapa puisi dan cerpenku terbit kembali di majalah itu. Tetapi aku belum bisa membeli gadget harga murah sekali pun, terkadang uang itu dipinjam ayah untuk modal dagang, atau ibu untuk belanja mengasapi dapur. Aku butuh perlombaan atau event dengan hadiah besar, aku membuka jendela yang banyak di browser, aku mengintip informasi ke sana sini—beberapa event aku pilih, salah satunya ada yang berhadiah smartphone. Aku bilang, hati manusia terlalu dangkal mencerna kebaikan Tuhan. Maka kali ini aku selalu menjaga prasangka baik pada Tuhan. Aku gagal, dari sekian banyak event atau perlombaan, tidak ada satupun  yang membuahkan hasil. Aku bilang pada diriku sendiri, “Bukan  saatnya mengeluh, saatnya introspeksi diri!”. Maaf lagi ya Tuhan, aku terlalu berambisi.
                Aku pun mencari perlombaan menulis lagi. Aku menemukan, “Lomba menulis surat”. Aku tidak terlalu suka menulis surat, tapi tidak ada salahnya mencoba. Ternyata inilah yang tidak disangka-sangka, keisengan belaka yang membuahkan hasil. Aku diundang pergi ke Jakarta, lantas ke Lombok untuk mengikuti acara final (Hatiku pernah berkata, “Tuhan aku ingin liburan agak jauh”). Dan memang benar, 3 hari di sana itu dihabiskan untuk liburan, dan sisanya untuk lomba. Liburan gratis, dikasih uang jajan pula. Maka, fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban. “Tuhan, kau selalu dan terlalu baik.”
                Tidak hanya sampai di situ, ternyata sisa uang jajan dari panitia dan sekolah masih banyak, maka aku pun membeli gadget yang kudamba-dambakan dari beberapa bulan lalu (sebelum ke Lombok, aku sudah punya hp baru, tapi masih sama jadulnya, cuman agak berwarna dan lahir di zaman terbaru. Sebab layar handphoneku dulu sangat suram, terlalu banyak mengenang masa lalu—kuning padam)

                Akhirnya aku punya dua handphone baru, yang satu ponsel sederhana keluaran terbaru untuk telpon dan sms, yang satu lagi gadget untuk social media. Ini bukan tentang seberapa banyak kita menabung uang atau kerja keras. Ini tentang seberapa banyak kita menabung kesabaran dan prasangkabaik pada Tuhan. Love you Allah, My Lord.

Cianjur, 2018

Monday, January 22, 2018

SELAMAT PAGI! AYO NYALAKAN API!

        Pagi di bulan ini selalu bersahabat dengan ranjang dan selimut. Cuaca mendung, matahari malas bangun, gerimis kembali menidurkan bumi. Aw, ini terlalu puitis, ini disebabkan langit yang mengabu di kepalaku. Meskipun begitu, kita tidak boleh kehilangan api pekerja. Apa? Api pekerja? Ya, maksudku kita harus tetap bekerja dengan semangat yang berkobar seperti api. Aku tahu, mengalahkan dingin itu susah, apalagi  buat mandi. Tenang, aku punya acara untuk menyalakan api yang akan membakar semangat di setiap pagi :

1. Jauhkan selimut dari tubuhmu

Selimut adalah pelukan bagi seorang jomblo. Dekapan bagi seorang istri yang ditinggal suaminya, atau sebaliknya. Selimut selalu berbaik hati melindungi kita dari dingin dan sepi. Maaf, aku terlalu terbawa perasaan. Bila kamu ingin bangun, jauhkan selimut! Sejauh-jauhnya! Katakan pada selimut kesayangan kita, “Selimut maaf ya, di pagi ini aku LDR dulu sama kamu, nanti malam kita berduaan lagi kok!”

2. Bangun, berdoa, dan tersenyum
Lakukan 3 hal ini berurutan. Setiap sebelum tidur, aku selalu berpesan pada seseorang, “Jangan lupa merem, atau jangan lupa bangun.” Orang sadar mungkin tidak akan pernah lupa, tapi bagaimana kalua tidak sadar? Aku takut kehilanganmu, kamu bunga tidurku. Kalau aku  bangun, dan kamu tidur terus, aku ketinggalan bungaku, nanti bungaku layu, tidak ada yang menyiramnya dalam mimpi. Puah! aku tidak menyadarkan diri saat mengetik kalimat itu. Ayo bangun! Setelah itu ucapkan doa. Doa itu bisa berupa syukur bahwa kau tidak lupa bangun, bisa ditambahkan juga doa untuk orang tercinta, misalnya “Ya Allah kemarin dia belum mencintaiku, semoga pagi ini hatinya berbalik ya.” Susul dengan senyum paling manjah ya. Setiap pagi, malaikat datang menghampiri setiap rumah untuk memungut doa dan senyuman.

3. Mandi, dan datangkan kebahagiaan
Mandi itu memberi kesegaran pada tubuh. Jangan hanya pada tubuh, segarkan juga hatimu. Mandilah sambil nyanyi bahagia, ingat kebahagianmu di masa lalu. Biar semua kebahagiaan itu berbunga kembali, dan saat itulah kamu mandi kembang. Jangan biarkan satu kesedihan pun muncul di pagimu.

4. Ringankan beban hidup dalam setiap langkah
Bayangkan dalam setiap langkah beban hidupmu jatuh, jangan jadi pemulung! Biarkan beban itu diinjak dan hilang. Bila kamu memakai kendaraan, bayangkan dalam setiap putaran ban, bebanmu berjatuhan, jangan dilirik ulang. Yang memakai mobil hati-hati di jalan, biasanya suka mengenang, karena mobil itu punya gigi belakang, bisa mundur ke masa lalu. Yang pakai motor harap tenang, belai lembut gasmu dengan perlahan. Awas, di jalan banyak kenangan, eh genangan. Eh awas, jatuh mengenang ke dalam genangan masa lalu.

       Apakah apinya sudah menyala? Selamat pagi dan selamat beraktivitas. Salam hangat, jangan lupa ngopi dan menikmati hari.


Cianjur, 2018

Saturday, September 9, 2017

CATATAN ULANG TAHUN



(Untuk sahabatku, Ing Satira)

                Bismillahirrahmanirrahim, panggil saja Maskur! (Aku suka nama ini, sebagai awal kata dari syakaro—yaskuru—syukron—syaakirun—maskuurun, yang berarti selalu bersyukur). Semoga aku menjadi nama yang diharapkan orangtuaku. Maaf, hanya intermezzo.
                Seharusnya tidak ada yang bergembira atas bertambahnya umur seseorang. Barangkali Allah juga berkata, “Yaaa ‘iibadi, umurmu sudah berkurang, mendekatlah, mendekatlah, mintalah apa yang kau mau.” Bukan hanya pada hari ulang tahun, kapan pun kita butuh hadiah maka berdoalah. “Was’alulloha min fadhlih.”, Allah menyuruh kita berdoa kepadaNya, dan itu sebagian dari karunia-Nya. Allah begitu mencintai kita, ibarat seorang anak yang selalu ingin dibelikan mainan, maka Allah selalu memberikanNya. Tetapi Allah adalah Dzat yang bijak dan Adil, Dialah yang Maha Tahu apa yang terburuk dan terbaik bagi kita. Hanya otak kita terlalu bebal membaca setiap keadilanNya.
                Ing, sudah berapa tahunkah kita berkemah di dunia? Ada waktunya kita pulang ke rumah, ke kampung halaman kita sebagai manusia. Kullun nafsin dzaiqotul maut, setiap yang bernafas pasti akan mati, dan sebagaimana nafas juga umur yang telah kita gunakan tidak bisa ditarik kembali. Maka kita tidak bisa membuang umur dengan sia-sia. Allah sangat merindukan kita, dia menyeru dengan romantic, “Yaaayyatuhan nafsul muthmainnah.” Begitulah Allah memanggil kita, panggilan yang sangat mesra dan menenangkan jiwa. Dan di akhir surat Al-Fajr itu, Allah menyuruh kita untuk pulang ke rumah, pulang menuju surga-Nya. “Wadkhulu jannati.”
                Ing, semoga kau menjadi Siti Hajar yang taat pada Allah, menjadi Khadijah yang berjuang dengan hartanya, menjadi Aisyah yang cantik lagi sholelah, menjadi Fatimah yang istiqomah, menjadi Ummu Ummarah yang pemberani melawan kebenaran, menjadi Muti’ah yang hati-hati menjaga auratnya.
                Ing, pada akhirnya Allah sangat perhatian, lebih perhatian dari seorang lelaki yang mencintaimu, lebih perhatian dari semua orangtua di dunia ini. Sebab setiap detik yang kita gunakan akan ditanyakanNya. Seperti kita juga, Allah membenci orang yang suka mengabaikan perhatian dan perintahNya.
                Ing, aku hanya berusaha menyampaikan walau satu ayat. Dan lebih baik lagi mengamalkan walau satu ayat. Dan paling lebih baik lagi mengamalkan berbagai ayat yang kita tahu. Khoirunnasi anfauhum linnas. Semoga kita bisa menjadi manusia yang baik di mata Allah. Aaamin.


(MR. Maskur, 2017)

KAUM MENUNDUK




             Kaum ‘Ad, Kaum Tsamud, dan beberapa kaum lainnya telah dibinasakan oleh Allah. Begitu juga dengan tokoh angkuh terkenal, Fir’aun. Kisah mereka semua diabadikan dalam alquran sebagai pembelajaran bagi kaum selanjutnya. Dan kita adalah kaum selanjutnya, kaum dengan berbagai perkembangan dalam kehidupan. Salah satunya di bidang teknologi dan informasi, perkembangan teknologi sangat pesat, dari detik ke detik selalu ada saja perkembangan yang membuat berbagai perubahan guna memudahkan setiap pekerjaan manusia. Dan informasi di masa sekarang sangatlah mudah didapat, peristiwa yang baru saja terjadi bisa tersebar cepat seperti disebar angin ke seluruh penjuru, dan sepersekian detik lagi informasi baru datang silih berganti—proses pembaharuan yang sangat cepat. Demikian muqadimah yang singkat, sebab aku juga tidak mau kalah cepat dengan teknologi, aku ingin cepat menuju inti pembahasan.
                Kaum menunduk, bukan berasal dari kaum jin yang tidak kasatmata, mereka bisa dilihat dimana-mana. Mereka semua menunduk, menunduk bukan karena sedang merenung atau membaca buku, menunduk bukan seperti pribahasa padi yang berisi ilmu, bukan pula sedang berdoa khusyu. Mereka menunduk, ruhnya seperti terhisap ke dalam layar gadgetnya. Barangkali inilah zaman orang lebih beriman pada teknologi, lebih percaya pada informasi dibanding wahyu Allah. Orang-orang yang terkadang mengabaikan panggilan ibadah, dan lebih suka berdoa juga bersujud di berbagai social media. Aku tak pernah tahu, apakah Allah juga mempunyai akun di social media. Tetapi Allah memang berada di mana-mana, bahkan di layar gadget dan dunia internet. Namun terkadang orang menganggap seolah-olah Allah tidak ada di sana, padahal Dia Maha Melihat. Orang merasa bebas, seolah tidak ada aturan di dunia maya. Berbagai kehancuran bisa dilihat di kolom komentar, seperti adu domba, mereka saling menubrukan pendapatnya dengan kasar dan keras. Pakaian wanita muslimah sudah tidak bisa dibedakan dengan wanita berbikini, panjang dan menutup tapi transparan dan tipis. Wanita lebih suka mempersolek diri dibanding hati. Para lelaki lebih bebas meliarkan pandangan dan farji (diartikan sama dengan sebuah benda yang dimiliki laki-laki di bawah pusarnya). Orang-orang kembali menyembah berhala, menyembah gadgetnya sendiri. Dan mereka semua menunduk, dimana-mana mereka selalu menunduk.
                Kaum menunduk, mereka yang lebih suka melebur diri menjadi biner-biner digital dibanding langsung bersosial. Orang sibuk menunduk saat bicara bersama temannya, ia tertawa sendiri padahal teman di sisinya sedang bersedih. Orang-orang hilang kepekaannya, manusia-manusia tidak menjadi manusiawi, manusia jadi gadgetiawi, tapi lebih mirip barang mati. Dan kebanyakan orang tua masa kini mendidik anaknya dengan gadget atau teknologi. Maka jangan heran jika generasi sekarang dan yang akan datang adalah generasi yang terlahir, dididik, dan dibesarkan oleh gadget, smartphone, tablet, atau apapun yang terus dikembangkan hingga tidak ada habisnya. Barang-barang ajaib itu seolah telah menjadi teman bermain, guru, sekaligus orang tua angkat yang mengajarkan banyak hal. Sehingga anak-anak itu pun jadi anak ajaib, seorang balita bisa mengunjungi rumah mang Youtube tanpa permisi ke ibunya, lantas melihat artis menyanyikan lagu cinta—diikuti pula hingga khatam lagunya. Alat-alat dari saku Doraemon mulai bermunculan, berbagai kecanggihan bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang dari berbagai kalangan sudah mempunyai pintu ke mana saja, orang yang diam bisa tiba-tiba ada di toko dan berbelanja, orang yang duduk saja bisa tiba-tiba memesan tiket travel, bahkan anak-anak bisa masuk ke kamar dewasa—dan menyaksikan adegan luar biasa. Dan mereka semua menunduk, dimana-mana mereka selalu menunduk.
                Kaum menunduk, orang yang diajak bertukar pesan, sticker, atau emoticon—nyatanya tidak asyik diajak bicara, mereka lebih mirip boneka, tetap menunduk bila ditanya. Mereka tidak peduli pada lingkungan sekitarnya, lebih suka menunduk di kamar mengikuti berbagai isu-isu yang tidak bisa dipastikan kebenaran atau kesalahannya. Bahkan, mereka suka membuang kotoran di beranda—berbagai beranda social media, anak-anak sekarang lebih suka main di sana. Bila malam minggu tiba, para remaja ikut nongkrong juga, mencari kekasih atau lawan tarung di sana, ada juga yang tertawa mencaci orang lain, ada juga yang menangis ditinggal kekasih, ada juga yang curhat tanpa sudah, ada juga yang diam saja—ibaratnya hanya duduk memerhatikan yang lewat di jalan. Pokoknya berbagai macam kelakukan bisa ditemukan di sana. Padahal bila mati, semua manusia dikuburkan ke dalam tanah, tidak dikubur ke dalam Facebook, Twitter, Instagram, atau semacamnya. Dan mereka semua menunduk, dimana-mana mereka selalu menunduk.
                Kaum menunduk, selalu tunduk di setiap waktu, dan sulit tunduk di tiap lima waktu. Aku takut Allah murka. Dan memberi azab pada kita, atau mungkin sekalian mengkiamatkannya. Tetapi memang begitulah adanya, Dajjal lebih dulu turun dan menyebar fitnah di dunia maya. Berbagai kaum terdahulu yang diazab Allah kembali hidup di sana; ada kaum nabi Nuh, Kaum nabi Luth, kaum Saba, kaum ‘Ad, Kaum Tsamud, Kaum Madyan, dan kejahiliyyah di zaman nabi Muhammad SAW pun sudah bermunculan.  Mereka semua menunduk, dimana-mana mereka selalu menunduk.
                Kaum menunduk, dimana-mana mereka selalu menunduk. Mari kita berhenti menunduk kepada Tuhan selain Allah, Jibril datang menyampaikan pesan MajikanNya “Yuadzibu may yasyaaa’u wa yar-hamu may yasyaa’, wa ilaihi tuqlabuun.” Inilah pesan yang dititipNya, “Dia (Allah) mengazab siapa yang Dia kehendaki dan memberi rahmat kepada siapa yang Dia kehendaki, dan hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan.” (Q.S. Al-ankabut: Ayat 21). Sekali lagi “…dan hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan”, dan -Nya di sini hanya ditujukan pada Allah, bukan Facebook, Twitter, Instagram, atau semacamnya. Wallahu’alam bishowaf.

Cianjur, 2017